BANDUNG, KOMPAS - Dokter puskesmas kesulitan mendeteksi penyakit lupus dari pasien yang berobat. Hal itu mengemuka dalam lokakarya ”Penatalaksanaan Penyakit Lupus” yang diselenggarakan Yayasan Syamsi Dhuha, Selasa (20/9), di Bandung, Jawa Barat. Pelatihan diikuti 70 dokter puskesmas dari beberapa wilayah di Jabar.
Menurut seorang penderita lupus, Helin Herlina, banyak penderita di daerah yang belasan tahun yang didiagnosis dengan penyakit lain. Akibatnya, obat yang dikonsumsi tidak pernah menyembuhkan. Misalnya, seseorang selama 12 tahun didiagnosis menderita alergi ringan sewaktu berobat di puskesmas. Dia baru diketahui menderita lupus setelah diperiksa di tempat lain.
Dian Syarief, Ketua Yayasan Syamsi Dhuha, menyatakan, dokter di puskesmas merupakan ujung tombak untuk mendeteksi penyakit lupus di masyarakat. Bila dokter jeli, penyakit itu bisa diketahui lebih dini sehingga bisa dirujuk ke rumah sakit dan diobati sebelum makin parah.
Penyakit lupus adalah gejala autoimun kronis. Sistem imunitas yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi virus ataupun bakteri malah berbalik menyerang sistem dan organ tubuh sendiri. Penyakit ini sulit dideteksi sebab gejalanya menyerupai penyakit lain dan berubah-ubah sehingga dijuluki penyakit 1.000 wajah.
Lupus tak ditularkan ataupun diturunkan secara genetik. Penyebab munculnya gejala, antara lain, paparan sinar ultraviolet, stres berlebihan, rangsangan bahan kimia dari obat ataupun campuran makanan, hingga asap rokok.